Cara Cepat dan Tepat Menentukan Harga Produkmu

Menentukan Harga Produk Jangan Asal, Ada Strateginya

Menentukan Harga Produk Jangan Asal, Ada Strateginya

Menentukan Harga

Faktor harga terkadang membuat pebisnis pemula minder. Mau menentukan harga tinggi, takutnya orang tertawa. Mau menentukan harga rendah, takutnya semakin banyak yang tertawa. Nggak heran, beberapa pebisnis awal terkesan malu-malu untuk membubuhkan harga di lapak jualannya. Jadi, misalnya dia menawarkan barang di media sosialnya, alih-alih pasang harga dengan jelas, dia memilih sabar menjawabi komentar teman-temannya satu per satu dengan, “Inbox saja, ya…”

Niat jualan, nggak, sih? Kenapa dia mau-maunya capek begitu? Kenapa dia nggak langsung memberitahukan harganya?

Ternyata, penyebab utamanya adalah orang ini nggak pede dengan harga produknya. Otaknya selalu terbayang-bayang, “Sudah benarkah hargaku? Bagaimana kalau kompetitorku menertawakanku? Bagaimana kalau calon pembeli menganggapku lugu dengan harga ini?”

Apakah kamu punya permasalahan yang sama? Apakah kamu bingung menentukan harga produkmu? Kalau iya, kamu sudah berada di artikel yang tepat. Teruskan membaca!

Mari kita kembalikan sejenak ke prinsip dasar terciptanya harga. Dalam berbisnis, penjual selalu ingin harga produknya setinggi-tingginya, sehingga profitnya bisa sebesar-besarnya. Sementara, pembeli menginginkan harga barang semurah-murahnya, kalau bisa gratis.

Dua pihak ini kemudian bertemu di suatu tempat yang bernama “pasar”, entah bertemunya secara fisik atau nggak. Di sanalah terjadi penyesuaian-penyesuaian. Biasanya, harga akan berada di tengah-tengah antara kemauan pembeli dan penjual.

Bagaimana kalau pembeli nekat dengan patokan harga awalnya. Tentu batal jual-belinya, karena penjual nggak akan melepas barangnya.

Terus, bagaimana kalau penjualnya yang bertahan dengan patokan harganya?

Coba kita lihat dari kacamata pembeli. Kalau sebuah harga suatu barang dirasanya terlalu tinggi, pembeli cenderung memilih menahan diri dan nggak membelinya, atau minimal mencari barang substitusi. Kecuali kalau barang itu merupakan kebutuhan pokok seperti bensin, beras, dan sebagainya.

Akibatnya, tentu barang itu jadi nggak laku. Di titik itulah, penjual akan mulai introspeksi diri. Nggak mungkin dia meneruskan produksi kalau nggak ada yang beli, bukan? Tindakan logis berikutnya, apa lagi kalau bukan menurunkan harga.

Lihat, mekanisme penentuan harga sebenarnya sesederhana itu: harga tengah-tengah.

Strategi Menentukan Harga Produkmu

Menentukan Harga

Sumber Gambar: Pexels.com
Jangan asal-asalan dalam menentukan harga. Kamu bisa menggunakan salah satu atau sekaligus tiga cara cepat ini untuk membandrol produkmu:

  1. Berdasarkan Biaya Pembuatan. Coba catat biaya dasar yang meliputi praproduksi (perencanaan) dan produksi. Lalu, tambahkan dengan biaya pascaproduksi (distribusi-marketing-promosi) dan keuntungan yang ingin didapat. Itulah harga produkmu. Atau, kalau kamu nggak ikut membuatnya, misalnya kamu adalah reseller, berarti biaya dasarmu adalah harga kulaknya. Gampang, kan?
  2. Berdasarkan Harga Pesaing. Jadikan kompetitormu referensi. Belilah setiap varian produk pesaing yang sejenis dengan produkmu, untuk dipelajari spesifikasi atau kandungannya, dan harganya. Lalu tiru. Atau untuk mencuri perhatian konsumen, kamu bisa memberi harga yang lebih murah atau harga sama tapi dengan kualitas yang lebih bagus.
  3. Berdasarkan Persepsi Pembeli. Gunakan harga perkiraan dulu, lalu juallah untuk pembeli yang terbatas. Setelah beberapa periode, lakukan survei untuk mengetahui apakah pembeli-pembeli tadi sudah puas dengan produknya. Juga, apa mereka merasa harga terlalu mahal, sudah pas, atau bahkan terlalu murah. Dari sana, bisa diputuskan untuk tetap bertahan di harga itu, menurunkan, atau justru menaikkan harga.

Konkretnya seperti apa? Oke, misalnya, kita mau jualan duren goreng. Untuk produksi 100 kotak, dalam sehari, kamu butuh:

    • 50 buah durian = Rp3.000.000
    • Desain kotak + 100 plastik + 100 kotak = Rp400.000
    • Adonan + minyak goreng + gas per hari = Rp60.000

 

  • Gaji harian dua pegawai = Rp160.000

Biar mudah, anggaplah nggak ada biaya marketing dan promosi. Biaya distribusi pun dianggap nihil karena nggak pakai toko dan ongkos kirim (ongkir) pemesanan pun ditanggung pembeli.

Maka biaya untuk menghasilkan 100 kotak duren goreng adalah 300.000 + 400.000 + 60.000 + 160.000 = Rp920.000. Katakanlah, kamu ingin untung 50%. Berarti kalau semua kotak habis, target labamu adalah 920.000 x 50% = Rp460.000.

Dengan begitu, total biayanya menjadi 920.000 + 460.000 = Rp1.380.000. Coba bagi angka itu dengan 100, maka per kotak duren gorengmu sudah ketahuan harganya, yaitu Rp13.800!

Tapi, kan, problem juga kalau ternyata kompetitormu jualnya Rp11.000 per kotak. Ditambah lagi, banyak pembelimu ternyata merasa duren gorengmu isinya terlalu sedikit. Jangan tutup mata dengan variabel-variabel nonteknis seperti ini.

Baca juga: Segala Hal yang Perlu Kamu Ketahui tentang Memulai Usaha

Kalau Tetap Mau Jual Mahal, Yakinkan Pembelimu

Menentukan Harga

Sumber Gambar: Pexels.com
Bagaimanapun, harga bukanlah alasan utama yang membuat seseorang memutuskan membeli produkmu atau nggak. Alasan sebenarnya adalah keyakinan. Pembeli yang nggak jadi beli (padahal sudah jelas butuh) pada dasarnya karena dia belum merasa teryakinkan, bahwa dia akan mendapatkan manfaat lebih dari yang dia bayarkan.

Kalau dia yakin, semahal apapun harganya, pasti dia beli!

Tahu nggak kamu, ada sebuah ponsel yang harganya sampai ratusan juta? Selain spesifikasinya serbaunggul, juga ada aksesori berlian dan emas di ponsel itu. Mungkin kamu tertawa, buat apa? Mana ada yang beli? Nah, itu, kan, pemikiranmu. Orang kaya raya bisa jadi punya pemikiran yang berbeda.

Faktanya, ada saja orang yang mau membeli ponsel itu. Kenapa? Karena mereka merasa yakin produk itulah yang mereka butuhkan. Barangkali, itulah ponsel yang bisa mendukung personal branding mereka. Cocok dibawa pas acara kumpul-kumpul bersama komunitas sosialitanya.

Sekali lagi, harga mahal belum tentu tidak dibeli dan harga murah bukan jaminan laris. Harga semurah apapun, kalau penjualnya gagal meyakinkan calon pembelinya, ya barangnya nggak akan laku. Barang murah tapi tetap nggak laku itu banyak, lo. Lihat saja di toko sekitarmu, toko apapun, pasti kamu menemukan banyak sekali contohnya.

Maka tugas penjual adalah, selalu, meyakinkan calon pembelinya bahwa manfaat produknya melebihi harganya.

Baca juga: 21 Tantangan Bisnis yang Akan Dihadapi Setiap Pengusaha


Itulah sedikit uraian tentang harga. Semoga sudah nggak bingung lagi dengan strategi menetapkan harga produk. Sederhananya, harga adalah biaya produksi dan pascaproduksi ditambah profit.

Tapi dalam menentukan harga, jangan mengenakan kacamata kuda. Kamu tetap harus pasang mata dan telinga untuk memantau harga pesaingmu, terutama untuk produk-produk yang sejenis. Selain itu, selalu dengarkan apa kata konsumenmu. Pastikan juga, konsumenmu tahu manfaat apa yang bisa mereka dapatkan dengan harga segitu.

Harga adalah satu faktor untuk memenangkan persaingan bisnis. Faktor-faktor lain pun nggak kalah penting. Kamu bisa mempelajari faktor-faktor lain itu di LangkahAwal.com. Sukses untuk bisnismu!

Back to top