Mencari Ide Bisnis dengan menggunakan Google Trends

Bingung Usaha Apa? Carilah Wangsit di Google Trends!

Bingung Usaha Apa? Carilah Wangsit di Google Trends!

Google Trends

Sebagaimana namanya, Google Trends dirancang untuk menyajikan informasi, berita, atau produk yang sedang menjadi tren dan banyak dicari oleh masyarakat di dunia internet (warganet). Cakupan informasi itu bisa diatur berdasarkan wilayah geografis tertentu. Sebagai misal, kamu bisa menelusuri berapa warganet yang mencari “manik-manik kerang” di Yogyakarta saja. Nah, kamu bisa juga menggunakannya untuk mencari ide bisnis.

Ini alat yang sangat berguna bagi UMKM! Kalau kamu belum pernah memanfaatkannya, bacalah tulisan ini sampai habis, lalu praktikkan.

Bagaimana Google Trends Bekerja?

Google Trends

Sumber Gambar: Pixabay.com
Setiap hari, mesin pencari Google menerima miliaran input kata kunci. Google merekam baik-baik semua input itu. Nggak hanya merekam, Google juga merapikannya dalam bentuk database yang terstruktur. Sebagian mereka simpan untuk kebutuhan perusahaannya sendiri, dan sebagian lagi mereka kembalikan ke warganet.

Nah, pengembalian data yang sudah diolah itulah yang tersaji melalui Google Trends.

Kamu bisa menggunakan Google Trends seperti Google Search biasa. Hanya, kalau di Google Search, hasil pencariannya berupa tautan-tautan (links) dari suatu laman situs web yang sesuai kata kuncimu. Sementara di Google Trends, hasil pencariannya berupa statistik terkait kata kunci yang kamu masukkan.

Sebagai ilustrasi, saat kamu memasukkan kata kunci “frozen kebab” di Google Search, kamu akan mendapatkan jutaan tautan yang berkaitan dengan kata kunci “frozen kebab”. Mulai dari penjualnya, pemasoknya, waralabanya, komunitas penggemarnya, blog seorang bloger yang kebetulan mengulasnya, dan sebagainya. Itu belum termasuk video, gambar, dan peta yang mengandung kata “frozen kebab”.

Tapi kalau kamu mengetikkan frasa yang sama di kotak pencarian Google Trends, maka kamu akan mendapat informasi dalam bentuk grafik, daftar, atau judul berita paling populer terkait “frozen kebab”.

Di sana, ada juga info mengenai negara yang paling banyak melakukan pencarian dengan kata kunci itu. Kalau kamu butuh data yang berhubungan dengan volume pencarian “frozen kebab” di Indonesia, tinggal pilih “Indonesia” di menu drop down All Regions. Kamu juga bisa mengatur batasan waktu pencarian di menu All Years. Pilihannya: Last 30 Days, Last 12 Month, dan seterusnya.

Praktis, dengan alat ini, pemilik UMKM bisa memperoleh setumpuk data yang berguna untuk mencari ide bisnis atau juga mengembangkan bisnisnya. Mencari kata kunci yang berkaitan dengan bisnis kita juga bisa. Contohnya, ekonomi, politik, hiburan, olahraga, atlet, sains, fesyen, otomotif, travel, hobi, buku, kuliner, dan sebagainya.

Baca juga: Segala Hal yang Perlu Kamu Ketahui tentang Memulai Usaha

Apa Manfaat Konkret Google Trends buat UMKM

Google Trends

Sumber Gambar: Pixabay.com
Ada banyak sekali manfaat Google Trends. Di sini, LangkahAwal.com rangkumkan lima manfaat utamanya untuk UMKM-mu:

  1. Untuk menguji ide bisnis. Caranya? Rangkum ide bisnismu dalam 3-5 kata kunci yang tepat. Misalnya, “toko roti pontianak”. Langkah selanjutnya, melalui Google Trends, kamu uji apakah frasa ini cukup banyak dicari sejak 2004, terutama di Indonesia, dan lebih spesifiknya di Pontianak? Tren pencariannya cenderung naik, stagnan, atau justru menurun? Grafik yang ditunjukkan Google Trends di sana niscaya cukup mewakili perilaku warga di dunia nyata. Karena warganet pun pada dasarnya adalah manusia, yang merupakan warga juga. Oleh sebab itu, data yang diperoleh dapat kamu jadikan patokan untuk membuat keputusan di dunia riil.
  2. Untuk menemukan ide pengembangan. Google Trends juga bisa kamu jadikan kawan dalam melakukan brainstorming. Misalnya, ternyata grafik Roti Artis melonjak tajam pada akhir tahun, tapi langsung anjlok setelah tahun berganti. Tren ini terjadi setiap tahun selama lima tahun belakangan. Maka untuk mengembangkan penjualan, setiap Desember, kamu mestinya fokus saja membuat Roti Artis. Untuk roti-roti lain, produksilah dalam jumlah ala kadarnya. Nah, ketika tahun berganti, baru kamu kembali memproduksi roti-roti reguler itu dalam jumlah normal. Ini bisa menjadi salah satu cara untuk mencari ide bisnis yang dapat bertahan.
  3. Untuk menemukan ide lain. Idemu ternyata nggak berhasil? Roti yang selama ini kamu bangga-banggakan sebagai mahakarya ternyata susah laku? Jangan putus asa. Sebagai pebisnis, kamu harus terbiasa mengesampingkan perasaan, serta mulai menggunakan logika (memutuskan berdasarkan data dan fakta). Tenang, hasil penelusuran Google Trends selalu bisa menciptakan ide-ide baru. Kalau frasa “toko roti pontianak” tergolong sepi, kamu bisa mencoba kata kunci yang lebih umum. Misalnya, “bisnis di pontianak”. Dari hasil pencarian tersebut, akan muncul frasa-frasa turunannya. Siapa tahu ada yang cocok untuk kamu tindak lanjuti.
  4. Untuk memantau kata kunci. Menggunakan Google Trends nggak bisa sekali-dua kali saja, meskipun untuk kata kunci yang sama. Lakukan pemantauan secara berkala pada kata kunci yang mewakili bisnismu, minimal setiap semester. Bagaimana peringkat kata kunci itu? Apakah masih populer? Kalau nggak populer lagi, apa tren baru yang menggesernya? Apa sekiranya tren baru ini masih relevan dengan bisnismu? Lakukan kajian seteliti mungkin sebelum mengambil keputusan bisnis.
  5. Untuk menemukan lokasi jualan yang pas. Taruhlah begini, kamu sudah punya modal untuk melebarkan UMKM Jaket Kulit Batik. Tapi kamu bingung, mau buka gerai di mana enaknya? Pikiran pertamamu mungkin Jakarta, pusat peredaran uang terbesar di Indonesia memang Jakarta. Orang-orang ibu kota punya banyak uang, suka fesyen (apalagi yang unik seperti jaket kulit batik), pasti laris! Eh, tapi jangan buru-buru menyimpulkan. Coba cari tahu dulu dengan Google Trends, berapa banyak orang Jakarta yang mencari “jaket kulit batik”? Jangan-jangan, di Medan lebih banyak yang cari?

Baca juga: 21 Tantangan Bisnis yang Akan Dihadapi Setiap Pengusaha


mencari ide bisnis

Bagaimanapun, selalu kombinasikan antara Google Trends dan Google Search. Setelah kamu dapat ide bisnis dari Google Trends, plus bocoran tentang di mana daerah yang paling membutuhkan produk itu, jangan langsung dieksekusi.

Katakanlah, kamu sudah memutuskan produkmu adalah duren goreng, dan lokasi penjualan pertamamu adalah Makassar. Coba cari dulu “duren goreng Makassar” di Google Search. Jangan-jangan, sudah banyak pemainnya. Kalau persaingannya sudah banyak, tentu jualanmu nanti akan berat.

Apalagi kalau kompetitor-kompetitornya kelas berat. Ciri-ciri “kelas berat” ini misalnya situs webnya bagus, fans media sosialnya banyak, dan mereka sering berinteraksi di sana (bukan media sosial yang sesepi kuburan). Apalagi kalau si kompetitor itu iklannya rajin berseliweran di televisi-televisi nasional. Aduh, sebaiknya pikir-pikir lagi, deh.…

Bukannya mengajari pesimistis, tapi mencari ide bisnis lain rasanya lebih realistis ketimbang harus nekat bertempur melawan raksasa-raksasa semacam ini. Toh dengan Google Trends, mencari ide bisnis baru itu selalu gratis dan mudah.

Tapi bagaimanapun, jangan hanya mengandalkan Google Trends. Perkaya juga wawasanmu dan sempurnakan pemahamanmu akan bisnis dengan rutin membaca artikel-artikel LangkahAwal.com. Banyak, lho, peluang, tren, atau kiat bisnis yang dibahas detail di portal khusus wirausaha muda ini. Isi penuh kepalamu dengan data, pengetahuan, wawasan, dan inspirasi. Setelah itu, saatnya praktik alias bertindak nyata!

Back to top